I am so crispy (Akar kehidupan)

28 Jan 2011

Pagi-pagi Pak Dodi udah sibuk ngurusin taneman yang ada di halaman rumahnya. Apalagi semenjak dia pensiun, gue liat hampir tiap pagi pak Dodi ngerawat tanaman yang lumayan banyak menghiasi pekarangan rumahnya itu.

Sabtu pagi begini, tadinya gue mau lari pagi di lapangan deket kosan gue. Tapi niat itu gue batalin saat gue ngeliat pak Dodi. Gue malah kepikiran buat bantuin pak Dodi ngurusin tanemannya. Bukan apa-apa, soalnya tetangga gue itu punya anak perempuan yang cantik, namanya Nila. Siapa tau aja kalau gue ikut bantuin, pak Dodi bakalan khilaf dan ngejodohin gue sama anaknya. :)

“Lagi sibuk ya, Pak? Saya boleh bantuin, ngga?”

“Eh, kamu Man. Iya nih, biasalah namanya juga pensiunan. Daripada bosen ngga ngapa-ngapain, mendingan saya ngurusin taneman-taneman ini. Silahkan, kalau kamu mau ikut bantuin. Kebetulan saya baru beli pot sebesar lemari yang belum dipindahin.” *Busyet disuruh mindahin pot segede lemari, lumayan juga tuh.*

Kemudian gue pun masuk ke halam rumah pak Dodi, untuk ikut bantu-bantu ngurusin tanamannya.

“Emang Bapak senang melihara tanaman, ya?” Tanya gue ke pak Dodi.

“Oh iya, dari muda dulu memang saya hobinya memelihara tanaman. Karena dulu rumah saya di kampung, halamannya itu luas sekali. Dan ayah saya pun hobi memelihara tanaman di halaman rumah. Jadi saya juga ikut-ikutan suka melihara tanaman.”

“Oooh, gitu ya Pak. Sama donk, saya juga suka memelihara tanaman.” Gue belaga sok-sok suka melihara taneman juga, biar bisa ngambil hatinya calon mertua. Hehehehe…

“Oh, ya…? Biasanya kamu melihara tanaman jenis apa?”

Waduh, mendengar pertanyaan pak Dodi itu, gue malah jadi bingung. Soalnya jujur aja, gue sebenernya ngga begitu suka sama tanaman.

“Oh, saya sukanya melihara berbagai jenis bunga, Pak. Dari mulai bunga mawar, sampe dengan bunga empot-empotan!” Jawab gue sekenanya.

Dan untungnya pak Dodi ngga nanya-nanya lebih jauh lagi.

“Tolong donk, bantuin saya pindahin tanaman ini ke pot yang lebih besar sebelah sana.” Kata pak Dodi, sambil menunjuk ke arah pot tanaman yang terbuat dari tanah liat yang terlihat masih kosong.

“Boleh, Pak.” Jawab gue semangat.

“Tapi hati-hati ya, memindahkannya. Jangan sampe akarnya pada rusak. Soalnya ini salah satu tanaman kesukaan saya.” Pak Dodi mewanti-wanti supaya gue berhati-hati dalam memindahkan tanamannya.

Gue dan pak Dodi pun kemudian memindahkan tanaman miliknya dari pot asalnya, ke pot lain yang berukuran agak besar. Setelah itu, pak Dodi menambahkan tanah dan pupuk ke tanaman yang sudah berada di pot baru tersebut.

“Kamu tau ngga, bahwa kebanyakkan tanaman itu mempunyai akar yang sama panjang dengan batangnya?”

“Masa sih pak? Berarti, pohon kelapa atau pohon beringin itu, akarnya panjang juga donk?”

“Oh iya…! Semakin tinggi atau panjang batang pohonnya, maka akarnya pun akan semakin panjang. Dan itu sebenarnya berlaku juga dalam kehidupan manusia.”

“Maksud bapak, kalo akar kita makin panjang, maka batang kita akan semakin panjang juga, ya?” *Begonya kumat!*

“Maksudnya begini, Man. kalau hal itu kita analogikan, maka batang pohon itu bisa diibaratkan dengan derajat kita dalam kehidupan ini. Dan akar pohon adalah ilmu yang kita miliki. Itu artinya, semakin panjang atau banyak ilmu yang kita miliki, maka akan semakin tinggi pula derajat hidup kita.”

Kata pak Dodi menerangkan tentang analogi ilmu yang diibaratkan dengan Akar dari kehidupan.

“Oooh, gitu ya Pak? Pantesan selama ini derajat hidup saya kok ngga naik-naik!”

“Oh iya, Pak. Nomong-ngomong Nila kemana, ya? Kok daritadi kayanya ngga keliatan?” Tanya gue tentang Nila anaknya pak Dodi yang cantik itu.

“Oooh, Nila udah dijemput sama pacarnya tadi pagi. Katanya sih mau lari pagi di Senayan.”

Dan jawaban pak Dodi itu jelas memupuskan harapan gue untuk bisa PDKT sama Nila!


TAGS I am so crispy humor Hilman akar kehidupan tanaman


-

Author

Follow Me