Siang itu gue berniat untuk makan siang di luar lingkungan kantor. Selain  untuk mencari suasana baru, gue juga udah lama ngga makan sate. Makanya siang itu, gue bertekad mencari warung soto! Lokasi tempat makannya lumayan jauh sih dari kantor gue, tapi gue terbiasa jalan kaki untuk menuju tempat itu. Karena kalaupun mau naik bis atau taksi, jaraknya naggung banget.

Untuk menuju ke tempat makan itu, gue mesti melewati kantor Departemen Agama. Dan entah kenapa, ketika melihat kantor itu gue teringat akan rencana pembentukkan undang-undang nikah siri yang saat ini sedang santer menjadi perdebatan. Sebenernya lebih tepat disebut kawin siri daripada nikah siri. Karena kata temen gue “Kalo nikah itu pake surat, Man. Sedangkan kalo kawin, pake urat!” Dan karena dalam proses pernikahan siri, kita tidak mendapatkan surat nikah dari KUA, maka dia sebut itu sebagai kawin siri.

Sebenernya, kenapa juga ya proses pernikahan itu mesti diribetin dengan urusan surat-menyurat segala? Lagian sekarang kan jamannya udah makin canggih, kenapa ngga pake email aja?? Jadi nanti kalo kita nikah, kita bakalan dapet email dari KUA, yang disebut dengan email pernikahan! Atau kalo mau lebih simple lagi, ya dalam bentuk sms aja!

Gue inget temen gue pernah bilang gini “Pernikahan itu harus mencakup tiga aspek, Man. Yaitu Aspek Agama, Aspek Sosial, dan Aspek Biologis. Kalau salah satu dari tiga aspek itu tidak terpenuhi, maka sebuah pernikahan akan menjadi sangat rentan.” Itu berarti, pada kasus kawin siri, mempelai mengabaikan salah satu dari aspek pernikahan, yaitu aspek sosial. Karena pernikahan akan diakui di masyarakat dan negara, jika prosesnya tercatat di KUA.

Memang sih, kalau dilihat dari aspek Agama, pernikahan bisa dilaksanakan, asalkan syarat-syarat pernikahan sesuai dengan agama yang dianut oleh pasangan tersebut, sudah terpenuhi. Dan dalam syarat itu, tidak disebutkan harus adanya surat nikah yang dikeluarkan oleh pihak negara.

Apalagi jika hanya dipandang dari sisi biologis. Sebuah proses perkawinan dapat dilaksanakan kapan saja, tanpa harus memandang syarat atau upacara tetek bengek segala macem. Yang penting sama-sama suka, dan ada tempat yang memadai, maka bisa langsung tancep! Asal jangan sampe ketauan hansip, aja! Soalnya nanti ujung-ujungnya bisa-bisa disuruh nikah juga, di kantor kelurahan! :P

Tapi jika hanya memandang dari aspek biologis saja, maka apa bedanya kita sebagai manusia dengan hewan? Dan hal itu jelas akan rentan menimbulkan berbagai masalah. Contohnya, jika kita dapat dengan mudahnya berganti-ganti pasangan, maka kemungkinan kita bisa terkena berbagai penyakit kelamin. Seperti Raja Singa atau lebih dikenal dengan istilah Lion King! Bahkan itu ada film kartunnya segala, loh! Atau yang lebih berbahaya lagi adalah jika kita terkena penyakit AIDS. Penyakit mematikan yang hingga kini belum ada obatnya, dan banyak menjangkit orang-orang yang sering gonta-ganti pasangan.

Kawin siri, sesuai dengan yang gue denger di televisi dan radio, katanya cenderung banyak menimbulkan kerugian. Terutama kerugian bagi pihak wanitanya. Karena secara hukum, mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menggugat sang suami, jika terjadi sesuatu dalam pernikahan mereka. Bahkan mereka tidak mempunyai kekuatan hukum apapun jika sang suami nyeleweng dengan wanita lain dan meninggalkan mereka begitu saja..Sehingga hal ini kemudian banyak dimanfaatkan oleh para pria hidung belang untuk memperoleh kenikmatan mereka, tanpa harus banyak bertanggung jawab.

Ada temen gue (tapi gue ngga mau nyebutin namanya), yang lebih memilih untuk kawin kontrak, daripada kawin kost! Saat gue Tanya “Ed*, kenapa sih, loe kok lebih memilih kawin kontrak, daripada nikah beneran?” Lalu E*i jawab gini “Ah, lebih enakan kawin kontrak, Man! Soalnya kalo kita kawin kontrak, kita ngga perlu mikirin keluar banyak uang untuk mengadakan pesta pernikahan, bayar KUA dan lain sebagainya. Dan ujung-ujungnya sama juga kan, dengan kawin kontrak kita juga bisa mendapatkan kepuasan batin tanpa berbuat dosa, kaya kita nikah biasa. Udah gitu, kalau loe udah bosan dengan istri kontrak loe, maka loe bisa cari istri kontrak lain, yang lebih oke, Man!”

Terlepas dari semua keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan kawin kontrak atau kawin siri, yang jelas dalam hal ini pihak wanita adalah pihak yang sangat dirugikan. Dan pada akhirnya makna pernikahan hanya mencakup pemenuhan aspek biologis saja. Meskipun pada awalnya, proses kawin kontrak dan kawin siri itu, dilakukan dengan mengikuti ritual keagamaan.

Di luar kasus kawin siri yang dilakukan hanya untuk memberikan keuntungan bagi pihak laki-laki, ternyata ada juga kasus kawin siri yang dilakukan karena sebuah keterpaksaan. Misalnya, pernikahan siri yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mampu untuk memenuhi persyaratan administratif yang dikeluarkan oleh pihak Departemen Agama atau KUA.

Seperti yang dialami oleh orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, atau hidup di lingkungan yang masih sangat terbelakang. Banyak dari mereka yang tidak bisa melakukan pernikahan secara sah menurut Negara. Hingga akhirnya mereka memilih melakukan pernikahan dengan hanya berdasarkan ketentuan agama.

Dalam hal ini, hendaknya pemerintah harus dapat lebih bijak dalam menyikapi pelanggaran undang-undang pernikahan. Jika yang melakukan kawin siri atau melanggar undang-undang tersebut, adalah orang yang memang tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan pernikahan secara sah,  maka mestinya diberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat mencatatkan pernikahan yang mereka lakukan, dengan biaya yang relatif terjangkau. Atau kalau bisa digratiskan saja.

Jadi, nantinya hanya orang-orang yang mempunyai maksud menjadikan perkawinan hanya untuk memuaskan nafsu mereka, atau mendapatkan keuntungan sepihak sajalah yang akan berfikir 2 kali untuk melakukan kawin siri. Dan akhirnya para wanita akan semakin terlindungi haknya dari dampak negatif yang akan mereka tanggung dari sebuah kegagalan dalam pernikahan mereka.

Ketika semua pemikiran mengenai kawin siri ini berkecambuk, pas gue sedang melintasi kantor Departemen Agama itu, tiba-tiba gue melihat ada seekor kambing yang berkeliaran di pinggir jalan, depan kantor tersebut. Dan kayanya, kambing itu lepas dari tempatnya. Melihat hal itu, gue berniat untuk mengembalikan si kambing kepada pemiliknya, dengan membawa kambing itu masuk ke dalam kantor Departemen Agama tersebut. Supaya gue bisa mengetahui siapa pemiliknya, dan mengembalikannya.

Saat itu, gue coba menghampiri  salah seorang pegawai departemen agama yang kebetulan sedang berdiri di depan salah satu ruangan yang ada di kantor tersebut. “Maaf, Pak!” Sapa gue untuk mendapatkan perhatian orang tersebut.

Tapi ketika gue sapa, orang itu malah ngeliatin gue dari atas sampe bawah, terus ngeliatin kambing yang gue bawa tadi. Udah gitu, dia malah nanya gini ke gue “Kamu ngga sedang main-main kan?”. Gue sempet bingung juga, ketika ditanya begitu oleh pegawai tersebut. Dalam pikiran gue, mungkin dia kira gue main-main karena dateng ke situ sambil bawa kambing segala. “Ngga pak, saya ngga main-main, saya bersungguh-sungguh kok.” Jawab gue, berusaha meyakinkan bapak itu, bahwa gue bersungguh sungguh untuk mengembalikan kambing ini kepada pemiliknya.

Setelah itu, si bapak pegawai tersebut malah nyuruh gue dan kambing yang gue bawa itu untuk masuk ke ruangannya. “Silahkan, duduk.” Pinta pegawai Depag tersebut. “Jadi sudah berapa lama, kamu dengan kambing ini?” Tanya pegawai yang duduk berhadapan dengan gue dan si kambing. “Barusan kok, Pak.” Jawab gue sejujurnya.

Sejenak pegawai itu, terlihat bingung. Tapi kemudian melanjutkan omongannya. “Saya tau, bahwa tampang kamu memang jelek. Dan kayanya, penghasilan kamu juga pas-pasan kan! Tapi apakah kamu yakin dengan apa yang akan kamu lakukan ini?” Omongan pegawai itu, sebenernya membuat gue jadi makin bingung? Emang apa hubungannya, ngembaliin kambing dengan urusan tampang dan penghasilan gue? Udah gitu, dia pake nanya, apakah gue yakin atau ngga segala, lagi? Apa dia ngga percaya bahwa gue bener-bener mau ngembaliin kambing ini kepada pemiliknya?

“Saya yakin pak, dan benar-benar merasa bertenggung jawab atas kambing ini!” Jawab gue, dengan mantap. “Ya udah kalau begitu. Saya catat dulu data diri kamu.” Kata pegawai tersebut, sambil mengeluarkan selembar kertas. Jadi bener-bener bingung, melihat apa yang dilakukan oleh pegawai tersebut. Tapi karena itikad baik gue untuk mengembalikan kambing ini, kepada pemiliknya. Maka gue menuruti untuk memberikan data diri gue sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh bapak pegawai itu.

Setelah mencatat semua tentang data diri gue, kemudian bapak pegawai itu bilang gini “Jadi rencananya, kapan dan dimana rencananya kalian akan melangsungkan pernikahannya?” Pertanyaan itu jelas membuat gue kaget, sekaligus menjawab kebingungan gue tadi! Jadi rupanya, dari tadi si bapak pegawai ini mengira bahwa kambing itu adalah pasangan gue, dan gue datang ke situ untuk mendaftarkan pernikahan gue dengan kambing tersebut! EMANGNYA LOE PIKIR  GUE BANDOT!!


Comments



14 Comments so far

  1.    badut on February 19, 2010 20:12

    yessssssss….
    pertamax…
    lam kenal, bang hilman!

  2.    badut on February 19, 2010 20:20

    boleh ga sayah katakan,
    “mendung blm tentu akan turun hujan, ketawa terussssss blm tentu bahagia?”(tapi GILA)
    hehehe

  3.    gusthy on February 21, 2010 16:03

    mantap…
    bagian yang terakhir lucu banget..
    salam

  4.    sewa mobil on February 23, 2010 15:52

    wah enak betul bisa kawin siri
    tapi itu sih hak pribadi kok

  5.    nursanty on February 25, 2010 14:37

    ringan n lucu..
    salam :)

  6.    meme on February 26, 2010 07:26

    endingnya ketebak sebernya bang,,tp still..saya suka gaya garingnya dan yah pesan-pesan didalamnya…kapan nih ada pesan sponsornya xixix apaaa cobah :p

  7.    dunia anjari » Blog Archive » seafood “bandar serpong” sejuta rasa on March 11, 2010 14:13

    [...] suasana restoran bandar serpong. selain saya ada joel, ella, karmin, karel, marwan, julian, reza, hilman, marlisa, kristin, dedi, gardino, maulin dan keluarga, asri dan keluarga. ehm, siapa lagi ya? dan [...]

  8.    Tony on April 27, 2010 13:50

    mantap…
    bagian yang terakhir lucu banget..
    salam

  9.    Rick on April 27, 2010 21:03

    wah enak betul bisa kawin siri
    tapi itu sih hak pribadi kok

  10.    Simon on April 28, 2010 02:43

    [...] suasana restoran bandar serpong. selain saya ada joel, ella, karmin, karel, marwan, julian, reza, hilman, marlisa, kristin, dedi, gardino, maulin dan keluarga, asri dan keluarga. ehm, siapa lagi ya? dan [...]

  11.    Simon on April 28, 2010 10:10

    ringan n lucu..
    salam :)

  12.    Bill on April 28, 2010 11:34

    mantap…
    bagian yang terakhir lucu banget..
    salam

  13.    sewa mobil di surabaya on May 24, 2010 14:41

    keren dan asyik artikelnya mas

  14.    Seno Rasca on August 29, 2010 05:14

    Padahal di awal gue dah serius bngt bacany, endingnya bocor juga…

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image

jika anda melihat tulisan ini, aktifkan css anda