Dec
07
Filed Under (I am so crispy, Religi) by hilman on 07-12-2009 and tagged , ,

Sabtu sore itu, gue sendirian menyusuri sepanjang jalan di deket kosan gue. Ngga tau mau ngapain? Bukannya gue ngga punya keinginan untuk jalan atau nongkrong di tempat-tempat yang cozy. Tapi semua ini karena memang duit di kantong gue cuma ngepas buat makan sehari-hari, hingga tiba gajian berikutnya.

Pas gue lagi jalan sambil bengong, gue liat di depan gue ada bapak-bapak buta yang hendak menyebrang jalan. Dan melihat hal itu, gue jadi tergerak untuk membantu menyebrangkan bapak tersebut. “Mari pak, saya sebrangkan.” Ajak gue sambil menggandeng bapak itu, untuk nyampe ke sebrang jalan. “Terima kasih ya, Dek.” Ucap bapak itu, sambil tersenyum.

Sesampainya di sebrang jalan, gue bertanya sama bapak itu. “Emang bapak mau ke mana?” Bapak itu kembali tersenyum saat menjawab pertanyaan gue. “Kalo ngeliat pakaian Bapak, coba Ade tebak, bapak ini mau ke mana?”. Aneh juga bapak ini. Gue tanya sama dia, eh malah dia balik nanya ke gue? “Mmmhhh, pasti bapak mau dugem, kan…??” Jawab gue lantang. “Pletak!!” {Stik yang dipake bapak itu, bersarang di kepala si penulis!}

“Bapak mau ke mushola, De.” Jawab bapak itu, sambil menunjuk mushola yang terletak tepat di hadapan gue, dan bapak itu. Terus gue pikir gini, “Daripada gue ngga tau mau ngapain sore ini. Mendingan gue ikut bapak ini aja ke mushola. Siapa tau aja dari situ gue bisa dapet hidayah berupa uang yang banyak, biar bisa gue pake buat nongkrong atau dugem” :P

Setibanya di dalam mushola, gue dan bapak tadi mengambil wudhu, kemudian ikut sholat maghrib berjamaah. Setelah selesai sholat, bapak itu pun bersandar di tembok pinggiran mushola, sambil tak henti-hentinya mengucap “Alhamdulillah“. Terus terang, gue kagum melihat sosok bapak yang buta itu. Satu sisi dia mengalami sebuah cobaan yang cukup berat, berupa kebutaan. Tapi di sisi lain, dia senantiasa mengucapkan syukur kepada Allah.

Dan terdorong oleh rasa penasaran, gue pun memberanikan diri untuk bertanya ke bapak itu. “Pak, saya boleh Tanya ngga?” Gue coba meminta ijin terlebih dahulu, untuk bertanya ke dia. “Tanya, apa? Asal jangan tanya soal matematika aja. Bapak udah lupa!” Jawab bapak itu, sambil tak pernah lepas dari senyumnya.

“Bapak buta sejak lahir, ya?” Tanya gue dengan nada yang sangat hati-hati. Karena gue takut pertanyaan gue itu akan menyinggung perasaan dia. Tapi mendengar pertanyaan itu, dia malah kembali tersenyum ke gue. “Ngga Dek. Bapak mengalami kebutaan bukan semenjak lahir. Tapi baru saja beberapa tahun yang lalu.” Jawab bapak itu dengan tenang. “Kalau boleh tau, apa penyebabnya, Pak?” Tanya gue lagi.

“Penyebabnya adalah Cinta!” Jawab bapak itu, dengan melemparkan senyum yang lebih lebar. “Kok bisa, Pak?” Tanya gue makin penasaran dengan jawaban tadi. “Kan ada istilahnya, bahwa ‘cinta itu buta’. Hehehe…” Jawab bapak itu sambil tertawa. Melihat hal itu, gue pun jadi ikutan ketawa. Tapi dibalik itu, gue semakin kagum sekaligus merasa heran dengan bapak ini. Karena kalo gue yang mengalami kebutaan seperti bapak itu, mungkin gue akan merasa sedih dan ngga akan bisa tersenyum seumur hidup gue.

“Maksudnya gimana, Pak? Kok cinta bisa menyebabkan bapak jadi buta?” Tanya gue lagi, dengan nada yang semakin penasaran. “Begini ceritanya, Dek. Bukannya sombong, tapi dulu bapak adalah seorang pengusaha yang tergolong sukses. Dan dengan kesuksesan itu, bapak bisa memiliki apa yang bapak mau. Bahkan dengan kesuksesan itu juga, bapak sering bersenang-senang dengan menghambur-hamburkan uang. Bapak sering dugem dan mabuk di diskotik. Sering ikutan judi, sama teman-teman sekedar buat have fun. Serta tidak ketinggalan,  bapak pun suka main cewek, saat itu.” Wah, kalo denger dari ceritanya tadi, masa lalu bapak itu ternyata bertolak belakang banget ya, dengan keadaan dia sekarang.

“Terus, kenapa bapak jadi bisa seperti ini?” Tanya gue masih dengan nada penasaran. “Kan di awal bapak udah bilang. Ini semua karena cinta.” Bapak itu kembali tersenyum ketika menyebutkan kalimat tersebut. “Ceritanya gini, suatu saat ketika bapak pulang dari diskotik dengan mengendarai mobil, dan dalam keadaan mabuk. Waktu itu, bapak menyetir dengan ugal-ugalan, karena mungkin di bawah pengaruh alkohol. Hingga pada akhirnya, mobil yang bapak tumpangi menabrak pembatas jalan tol. Dan menyebabkan bagian depan mobil bapak hancur berantakkan. Kaca mobil bapak, pecah berkeping-keping, hingga menyebabkan sebagian dari kaca itu menusuk bagian mata bapak. Dan sejak saat itu, mata bapak pun menjadi buta.” Sebuah kecelakaan yang mengenaskan, meskipun sebenarnya itu adalah akibat ulah bapak itu sendiri.

“Emang bapak waktu itu ngga berobat? Kan bapak punya banyak uang?” Tanya gue ke bapak itu lagi. “Cobaan yang bapak terima, ternyata belum cukup sampai di situ De. Setelah kejadian itu, bapak tidak bisa berbuat apa-apa dan bapak merasa sangat stress saat itu! aat itu bapak pikir, bapak telah kehilangan segalanya. Bapak tidak bisa lagi menikmati indahnya dunia, yang biasa bapak nikmati. Bahkan bapak merasa hidup ini sudah tidak ada artinya lagi.”

“Dan sejak mata bapak mengalami kebutaan, satu persatu orang yang tadinya dekat dengan bapak, mereka pergi meninggalkan bapak. Bahkan, beberapa orang sahabat bapak, tega menghancurkan bisnis yang telah bapak bangun.”

“Yang lebih ironisnya lagi, istri yang sangat bapak harapkan saat itu, malah pergi meninggalkan bapak dan berselingkuh dengan sahabat bapak sendiri. Setelah dia melihat keadaan ekonomi bapak yang semakin jatuh dan terpuruk, karena kebutaan ini.” Terus terang, saat mendengar cerita itu, gue jadi merasa semakin miris dengan apa yang bapak itu alami. “Terus, setelah itu bagaimana kehidupan bapak selanjutnya?” Tanya gue yang masih penasaran dengan kelanjutan kisah hidupnya.

“Setelah semua orang pergi meninggalkan bapak, bapak sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan rumah bapak pun dijual oleh mantan istri bapak, Hingga akhirnya bapak harus terusir dari rumah bapak sendiri. Saat itu bapak juga ngga tau mesti ke mana? Karena orang tua bapak juga sudah tidak ada, dan saudara-saudara bapak pun sudah sejak lama menjauhi bapak. Akibat ulah bapak dulu ketika masih jaya, yang tidak pernah peduli dengan kesulitan mereka.”

“Hingga pada suatu hari, saat bapak tengah berjalan sendiri tanpa tujuan. Ada sesorang pengurus sebuah pesantren, yang kebetulan kenal dengan bapak. Karena dulu bapak pernah ikut menyumbang pesantren itu sebelumnya. Pengurus pesantren itu, kemudian mengajak bapak untuk tinggal di pesantren tersebut.” Lanjut bapak itu yang berusaha mengingat seluruh kejadian yang telah dia alami.

“Di pesantren itu, pada awalnya bapak masih belum bisa menerima segala cobaan yang bapak terima ini. Bapak masih merasa, bahwa hidup ini sudah tidak ada gunanya lagi. Bahkan saat itu bapak merasa, ini adalah sebuah kutukan yang diberikan Allah kepada bapak. Akibat semua keburukkan yang telah bapak lakukan, ketika masih punya banyak uang.”

“Namun berulang kali, para pengurus pesantren itu terus berusaha untuk menyadarkan bapak. Dan mereka mengajak bapak untuk mulai mendekatkan diri kepada Allah, dengan sholat, dzikir dan ibadah lainnya. Yang mana terus terang hal itu, sama sekali tidak pernah bapak lakukan ketika bapak masih menjadi orang yang normal dan sukses.”

“Dan kamu tau, apa yang bapak rasakan setelah melakukan pendekatan diri kepada Allah?” Tanya bapak itu ke gue. “Apa tuh pak?” Gue terus terang ngga tau, apa yang dirasakan oleh bapak saat itu.

“Bapak baru menyadari, ternyata kejadian tragis yang telah bapak alami itu, bukan karena Allah benci atau mengutuk bapak. Namun sebaliknya, itu semua karena Allah cinta sama bapak.” Jawab bapak itu sambil kembali tersenyum. Dan dibalik senyumannya itu, terlihat ada air mata yang menetes membasahi pipinya. “Kok bapak bisa berfikir seperti itu?” Tanya gue yang masih belum bisa nangkep makna dari pembicaraan bapak itu.

“Selama ini bapak diberikan nikmat yang begitu banyak oleh Allah. Berupa kesehatan dan harta yang belimpah. Namun apa yang bapak lakukan dengan semua kenikmatan itu? Bapak tidak pernah bersyukur atas itu semua. Bahkan bapak sama sekali tidak pernah mau dekat atau mengenal Allah. Karena bapak terlalu terlena dengan semua kenikmatan dunia yang bapak dapatkan.”

“Dan kalau Allah tidak sayang sama bapak, dengan memberikan tanda cinta berupa kebutaan dan semua kejadian tragis yang bapak alami, mungkin bapak akan terus bergelimang harta dan kesenangan dunia hingga akhir hayat bapak nanti. Hingga akhirnya, mungkin bapak akan mati dalam keadaan yang kotor dan tidak mengenal Allah sama sekali.”

“Tapi untunglah, Allah masih sayang kepada bapak. Allah masih mau memberikan tanda cinta berupa kebutaan dan semua kejadian tragis yang bapak alami. Hingga saat ini, bapak bisa mengenal dan merasa dekata dengan Allah” Jawaban yang diselingi dengan senyuman itu, sungguh terasa menggetarkan hati gue saat itu.

Dan dari cerita bapak itu gue baru sadar. Bahwa ternyata musibah, cobaan, atau penyakit yang kita alami, sebenarnya merupakan tanda cinta dari Allah untuk kita. Karena dengan adanya hal tersebut, kita bisa lebih dekat kepada Allah. Kita lebih  menyadari kehadiran Allah dalam hidup kita. Yang selama ini mungkin tertutup oleh segala nikmat duniawi yang kita peroleh.

Di saat gue sakit, gue bisa lebih dekat dan memohon kepada Allah, minimal untuk kesembuhan gue. Dibandingkan di saat gue sehat, dimana mungkin gue lebih memilih untuk bersenang-senang dengan keluarga dan teman-teman gue. Serta lupa untuk senantiasa berdoa kepada-Nya.

Di saat gue ngga punya uang, gue lebih bisa membatasi diri untuk tidak melakukan segala bentuk kemaksiatan, dan lebih mendekatkan diri serta memohon kepada Allah, agar senantiasa diberikan rezeki. Namun di saat gue punya harta yang berlimpah, mungkin gue lebih memilih untuk menghambur-hamburkan uang gue ke jalan kemaksiatan, atau membeli hal-hal yang sebenarnya tidak begitu gue perlukan.

Dan saat itu gue berdoa, semoga gue senantiasa diberikan kesadaran, bahwa setiap cobaan, penyakit dan musibah yang gue alami, merupakan sebuah tanda cinta dari Allah untuk gue. Dan semoga gue tetap diberikan kekuatan, untuk dapat senantiasa dekat dengan Nya, disaat gue bisa mendapatkan segala yang gue inginkan di dunia ini.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?


Comments

   ewash on 7 December, 2009 at 16:23 #

pertamax nih……..btw nice story boss…menggugah iman yg sering dilupain….


   satria-bontot on 8 December, 2009 at 06:57 #

wah keduax nh.tp kren bgd tu story nya gan. membuat kt sadar akn smwa nikmat yg d brikanNYA. Kita seringnya lupa brsyukur atas smwa karuniaNYA.


   dr_naziel on 8 December, 2009 at 12:50 #

Mengamankan runner up dulu yaa…
mengingatkan untuk ke mushala :)


   lischantik on 8 December, 2009 at 15:05 #

postingan yg mencerahkan


   Danang on 8 December, 2009 at 15:15 #

giLa!!gara2 bCa ceRita Lo,keLuar dCh si2 ceNgeng gw… Eh jNgan bLang2 ya?!BrSn stLah gw bCa,gw meNeteSkn aiR mata.


   an9el on 8 December, 2009 at 16:41 #

tanda cinta yg luar biasa :)


   astri on 8 December, 2009 at 18:07 #

sumpah gila,,
keren ceiy..
mantab la..
sering2 y..
byar aq sering tobat..
hegheg
LANJUTKAN.


   meme on 9 December, 2009 at 06:53 #

seperti biasa mas hilman..inspiring dan ttp crispy….btw kapan nih blogna dibukuin….saya acung tangan yang bakal beli, insyaallah ^^…


   dewira on 9 December, 2009 at 10:47 #

begitulah kita manusia mas hilman, ingat Tuhan ketika sedang susah, sedangkan waktu senang suka lupa.

Kesulitan dan kelapangan dua2nya merupakan ujian. Tapi yang lebih berat adalah ujian kelapangan atau kesenangan,

Banyak orang lulus waktu dihadapkan dengan ujian berupa kesusahan, tapi sangat sedikit yang lulus ketika ujiannya adalah kesenangan.


   bakulrujak on 9 December, 2009 at 11:22 #

berkunjung kembali setelah tenggelam sekian lama.
selamat siang :)


   papadanmama on 9 December, 2009 at 15:18 #

kisah hidup yg luar biasa


   vizon on 10 December, 2009 at 08:12 #

ternyata si bapak “diselamatkan” oleh sedikit amalnya, yakni “pernah” nyumbang ke pesantren.

amal yang sedikit mampu menyelamatkan, bagaimana bila amal kita sangat banyak? aih… tak terbayangkan mudahnya hidup ini…

nice story Man…
very inspiring
thanks


   gusthy on 11 December, 2009 at 04:45 #

kata2 apa yang cocok untuk cerita ini…
mantap..!!!!


   Bhamz on 11 December, 2009 at 07:10 #

Pd akhirnya, unt yg pintu hidayahnya telah terbuka, suka dan duka dl hidup ini cuma berkah isinya…
Salam,


   melly on 11 December, 2009 at 12:29 #

selalu menggugah klo masuk blog mas Hilman :)


[...] hilman-julie, detik office [...]


   diandono on 15 December, 2009 at 13:55 #

cerita menarik, memang ada baiknya melihat musibah dari sisi yang lain


   erza on 15 December, 2009 at 17:28 #

kita kadang lupa dan tidak mengerti akan pentingnya bersyukur atas segala yang didapat dan dalam kondisi apapun kepada Nya.


   serpihan gerhana » Blog Archive » endapan kenang on 16 December, 2009 at 10:15 #

[...] gw oleh2 dari singapor idana, dek hadiah queen of the yearnya kirim ke alamat medan yeee asiiikk hilman, jangan sedih gitu napa hil, gw ngerti kalo gw mang susah dilupakan wakakakkakaa buat [...]


   MT on 16 December, 2009 at 12:01 #

cara Tuhan mencintai hambanya memang beragam… so nice, so crispy!


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: